Tidak Kurban Sapi, Kambing, Tapi Kurban Perasaan

suasana-setelah-idul-adha-di-masjid-jami-palopo-2Kalimat diatas memang bukan judul yang tepat tapi saya menganggap berhubungan dengan keadaan yang terjadi pagi tadi dan setidaknya sedikit menjelaskan isi coretanku.

Bagaimana tidak, sejak terbangun sekitar pukul 05.20 sesuai dengan waktu weker hape yang sudah disetting semalam terdengar dari luar suara rintik mendekati hujan keras. Pikiran langsung menerawang kebelakang, “ah biasa saja mungkin seperti lebaran yang kemarin-kemarin yang selalunya begitu hujan subuh dan tiba pagi sudah mulai mereda”. Semenit dua menit menunggu bahkan sampai sejam lewat tidak menandakan hujan akan segera mengakhiri keberadaannya.

Tepat pukul 06.30 segera mandi dan berpakaian rapi tapi bukan baru, pakaian yang kukenakan pakaian yang kemarin kupakai sewaktu Idul Fitri bahkan lebaran setahun yang lalu dan lalunya lagi, Baju koko soalnya🙂.
Jam menunjukkan Pukul 07.10 Tetap saja hujan masih dengan asyik-asyiknya menancapkan butiran airnya yang kini semakin membesar menandakan kalau dia akan menambahkan beberapa banyak lagi volumenya di sekitaran Kota Palopo.
Pakaian dan perlengkapan shalat sudah tersedia dan beranjak melangkah ke pintu depan, sepintas melirik kuda besi tungganganku sehari-hari yang pagi ini tidak berdaya, kedua bannya secara serentak tadi malam bocor halus. Tanda-tandanya memang sudah beberapa hari ini gantian kempes. Sudah ditambah angin berulangkali tapi dasarnya memang sudah saatnya ditambal. Saya sangat sayang dia, sudah banyak membantu dan setia melayaniku sejak dibeli hampir tiga tahun yang lalu.
Sudah cukup melanglang buana dibanding dengan usianya yang masih lumayan muda. Makassar-Palopo sudah beberapa kali, Mamuju, Palopo-Toraja-Makassar, Makassar-Bone-Palopo dan masih banyak perjalanannya bersamaku. Wah, kenapa malah ngomong motor padahal saya tadi awalnya bukan mau bercerita motor? mending dipostingan lain saja yah??? hohoho…
Hujan masih saja mengguyur tetap saja tidak bisa keluar, beruntung saja sepupuku datang dengan mobilnya menjemput kami sekeluarga. Satu persatu kemudian naik dan cabut menuju ke mesjid agung tepat pukul 07.15. Belum sampai ditujuan, sekitar masjid jami terlihat banyak kendaraan yang terparkir. Rupanya masjid jami digunakan untuk pelaksanaan shalat Idul Adha. Kamipun turun sambil berharap semoga masih ada tempat yang tersedia untuk ikut melaksanakan shalat bersama. Beruntung bisa nyelip diantara para jamaah yang mulai memenuhi ruangan dalam masjid meski mereka datang lebih awal dari kami sekeluarga hoho…
Didalam masjid jami perayaan lebaran terasa asing, tidak seperti yang biasa dilakukan baik itu di Masjid Agung maupun di Lapangan pancasila. Mungkin karena status masjid yang dipakai secara darurat mengingat guyuran hujan yang tidak reda-reda juga jadi pelaksanaannya dilakukan singkat saja tapi saya mengucapkan syukur bisa menjalankan sunnah ibadah shalat Idul Adha bersama-sama.
Setelah selesai lebaran saya sempatkan mengambil gambar dari dalam masjid jami mumpung ada kesempatan langka bagi saya walau terburu-buru.
Pulangnya terpaksa basah kuyup karena mengantarkan nenek yang berjalan lelet sekali hingga sampai naik keatas mobil. Nenek yang umurnya sudah lebih dari seabad dan merupakan nenek terakhirku yang saat ini masih hidup.
Sesampai dirumah pace sambil berjalan berkata tahun ini tidak kurban sapi, kambing tapi kurban perasaan, sepintas lucu juga tapi yah mau diapa tahun ini memang kami lagi tidak berkurban, lebaran kali ini kami hanya kurban ayam beberapa ekor. Lumayan daripada tidak sama sekali hehe🙂.

One thought on “Tidak Kurban Sapi, Kambing, Tapi Kurban Perasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s